Oleh: purbodjati | Maret 5, 2009

POLA PEMBELAJARAN KESADARAN INTEGRASI NASIONAL

POLA PEMBELAJARAN KESADARAN INTEGRASI NASIONAL PADA PROGRAM LATIHAN PENCAK SILAT PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE SAMPAI TAHUN 2009.

Oleh: (Purbodjati)

I. Pendahuluan.

1. Latar belakang masalah.

Dasar Pemikiran: Memenuhi kewajiban sebagai mahasiswa yang berkemauan untuk memantapkan derajat kecendekiawanan, dimana dalam tahapan program akademik harus melaksanakan ujian komprehensip, maka sebagaimana pengalaman sejarah pendahulu pada bidang yang sama, kiranya filosofi dan strategi ideal yang penulis lakukan adalah melakukan improvisasi pemaknaan terhadap seluruh pengalaman teoritis dan empiris yang pernah penulis lakukan, baik secara informal, formal dan non formal pada berbagai bidang yang berkompeten dengan ilmu keolahragaan. Pembangunan Keolahragaan pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa. Kenyataan menunjukkan bahwa Ilmu Pengetahuan (Iptek) Keolahragaan telah membawa perubahan penting dalam perkembangan peradaban, terutama disektor kwantitas dan kualitas kebugaran dan kesehatan sumberdaya manusia diseluruh dunia. Abad ke-21 bahkan diyakini akan menjadi abad baru yang disebut era transformasi teknologi informasi-keolahragaan (digital-sports) dengan ciri khas perdagangan yang memanfaatkan elektronika (electronic commerce). Kondisi ini mengakibatkan adanya pergeseran paradigma strategi pembangunan bangsa-bangsa dari pembangunan industri menuju ke era informasi (information age). Keberhasilan target Ilmu Keolahragaan selalu berimplikasi pada perkembangan sektor: ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan suatu bangsa. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah melaksanakan program reformasi dalam perkembangannya sangat merasakan adanya nuansa baru yang secara langsung sangat mempengaruhi kesadaran sebagian masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Meski berkah kemerdekaan telah menguatkan semangatnya, namun reformasi sebagai peningkatan paradigma konsep dan strategi bangsa dalam mencapai kesejahteraan hidup juga membutuhkan waktu pemahaman dari setiap warga masyarakat seiring dengan tugas pokoknya dalam perjuangan menggerakkan berbagai aspek kehidupannya. Sehingga terkadang bahkan masih sering ditemui adanya sikap kegamangan, seperti masih dijumpai adanya sikap yang masih sering menyalahkan diri sendiri dan atau kepada para pegiat yang dengan semangat membaja, gigih, gagah berani dan konsisten selalu menggelorakan gerakan ini, Sikap kontraproduktip ini terbuktikan dengan masih adanya pendapat sebagian masyarakat yang diungkapkan secara lesan maupun tertulis bahwa masa sulit ini terjadi karena adanya reformasi. Ini mengindikasikan bahwa kemantapannya sebagai manusia Indonesia yang telah berjiwa Pancasila masih belum mapan. dan masih lemahnya pemahaman terhadap salah satu hukum kehidupan bahwa perubahan kearah yang lebih baik ini prosesnya tidak seperti membalik telapak tangan. Prospek reformasi mengemban visi dan misi kolektip untuk menegakkan tatanan kehidupan Pancasila yang syarat dengan muatan sumber historis nilai perjuangan bangsa, sedangkan proyeksi globalisasi syarat muatan tatanan kehidupan dunia yang harus kuat Profil Jati Diri BANGSA INDONESIANYA. Keduanya perlu modal dan kedisiplinan untuk mengeliminasi adanya spekulasi yang tidak wajar menurut ukuran ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan kepentingan bersama dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengingat pelaksanaan otonomi daerah yang visi dan misi idealnya adalah untuk mewujudkan keharmonisan asas desentralisasi dan dekonsentrasi, maka paradigma inilah yang harus disadari oleh seluruh komponen masyarakat Indonesia yang telah berkomitmen untuk selalu berada pada semangat meneruskan perjuangan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Kondisi ini sangat mempengaruhi dinamika konsepsi dan strategi ketahanan nasional (Tannas) dalam perjalanan perkembangan pembangunan bangsa Indonesia, yang salah satu diantaranya adalah dunia keolahragaan, yang merupakan salah satu komponen Penyemaian Jati Diri Bangsa. Di Indonesia Ilmu Keolahragaan secara resmi telah diproklamasikan pada tanggal 7 September 1998 dalam peristiwa “Deklarasi Surabaya 1998 Tentang Ilmu Keolahragaan”. Peristiwa historis ini berhasil melahirkan wadah yang bernama Komisi Disiplin Ilmu Keolahragaan (selanjutnya ditulis KDI – Keolahragaan; yang bertengger dalam Jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta Pusat) dan dokumen yang dirumuskan berbentuk “Ilmu Keolahragaan Dan Rencana Pengembangannya”, tepatnya pada Nopember 2000. Didalamnya telah dirumuskan prinsip dasar filsafat keilmuannya, dimana secara : Ontologis, epistemologis dan axiologis dibuktikan telah mantap dan dapat dipertanggung jawabkan secara teoritis dan empiris. Sedangkan penggambaran Komisi Disiplin Ilmu Keolahragaan (2004:) adalah sebagai berikut : Gambar 1: Resultante nilai-nilai olahraga. (Dimodifikasi dari KDI Keolahragaan , 2000; halaman 40). Dalam konteks analisa peta perkembangan, Organisasi Persaudaraan Setia-Hati Terate, adalah juga merupakan salah satu komponen Wadah Penyemaian Jati Diri Bangsa melalui proses pelestarian budaya Pencaksilat yang mengedepankan nilai-nilai Persaudaraan yang posisinya berada diluar wilayah konsepsinya Tripusat Pendidikan Ki Hajar Dewantoro, yakni di sektor pendidikan non-formal. Dalam kaitannya dengan konsepsi Ketahanan Nasional adalah merupakan salah satu MATRA dan PILAR, serta BENTENGNYA KETAHANAN BUDAYA BANGSA. Gambar 1: Resultante gatra-gatra ketahanan nasional. Ketahanan nasional (Tannas) adalah Keuletan dan Daya Tahan suatu bangsa yang mengandung Kemampuan untuk Medmperkembangkan Kekeuatan Nasional dalam menghadapi segala tantangan dan ancaman baik dari dalam maupun dari luar yang langsung atau tidal langsung, membahayakan kehidupan Nasional. (National Endurance is the Tenacity and Resistence of a nation bearing the capability to develop National Strength and Power in responding to inside as well as outside challenges and threats that directly or indirectly, endanger the National life). (Sanggar strategi Lemhanas, 1970, Konsepsi Ketahanan Nasional Dalam Pertumbuhan Masyarakat Samudra Indonesia, dalam Bunga Rampai Ketahanan Nasional (Konsepsi & Teori) I, Himpunan Lemhanas, Diterbitkan oleh PT. Ripres Utama, Jakarta, 1980, hal.: 56). Ketahanan nasional bangsa Indonesia, adalah kondisi dinamik bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi , berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung, yang membahayakan kehidupan nasional untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta perjuangan mencapai Tujuan Nasionalnya, (Lembaga Ketahanan Nasiona (Lemhanas); 1997; Ketahanan Nasional; Penerbit: PT Balai Pustaka – Lemhanas, Jakarta, halaman : 16) Bagi bangsa Indonesia Ketahanan itu berisikan: 1). Ideologi : Pancasila. 2). Politik : a. Dalam negeri : Demokrasi berdasarkan Pancasila. b. Luar negeri : Bebas aktif non-aligned. 3). Ekonomi : Demokrasi ekonomi. 4). Sosial-Budaya : Bhinneka Tunggal Ika. 5). Pertahanan Keamanan : Defensif – aktif. (Sanggar strategi Lemhanas, 1970, Konsepsi Ketahanan Nasional Dalam Pertumbuhan Masyarakat Samudra Indonesia, dalam Bunga Rampai Ketahanan Nasional (Konsepsi & Teori) I, Himpunan Lemhanas, Diterbitkan oleh PT. Ripres Utama, Jakarta, 1980, hal.: 58) Keseluruhan aspek kehidupan bangsa Indonesia itu meliputi gatra : ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan (selanjutnya disingkat IPOLEKSOSBUDHANKAM); Ideologi adalah sistem nilai yang memberikan motivasi yang berisikan konsep dasar tentang cita-cita kehidupan yang diharapkan. Cit-cita luhur perjuangan bangsa Indonesia adalah mewujudkan masarakat adil makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Ketahanan Ideologi adalah kondisi dinamik bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan ideologi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. (Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas); 1997; Ketahanan Nasional; Penerbit: PT Balai Pustaka – Lemhanas, Jakarta, halaman : 42) Politik nasional dalam menyejahterakan bangsa Indonesia melalui pembangunan olahraga adalah “menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga memiliki tingkat kesehatan dan kebugaran yang cukup, yang harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan olahraga di sekolah dan masyarakat” (Tap. MPR-RI Nomor IV/MPR/1999, bab 4, bagian F, butir 4, alinea 1)() (Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia; 1999; Hasil Sidang Umum MPR RI Tahun 1999 Beserta Perubahan Pertama Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Penerbit: Arkola Surabaya.). Filosofinya adalah budaya berolahraga diarahkan untuk membina kebugaran dan kesehatan yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dalam mencapai kesejahteraan hidupnya. Dalam mengembangkan cita-cita luhur kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia, maka doktrin pembangunan keolahragaan selalu diarahkan untuk memperkokoh Ketahahan nasional bangsa. Ini berarti, bahwa dalam proyeksinya dengan nasionalisme Indonesia, maka seluruh aspek pengembangan programnya harus berimplikasi secara positip untuk , mengintegrasikan, merekatkan dan memperkuat seluruh aspek kehidupan nasional, yang meliputi: potensi trigatra (posisi geografis Indonesia, sumber kekayaan alam dan sumberdaya manusia) dan pancagatra (ideologi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan).(Lemhanas: 1997) Ditegaskan dalam pasal 4 UU Republik Indonesia No. 3 tahun 2005, bahwa Keolahragaan nasional bertujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa. (http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005; halaman: 4) Arti: Pencak, dapat mempunyai pengertian gerak dasar bela diri, yang terikat pada peraturan dan digunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan. (Lelana, Mas Ezra Danu; 16/08/2006, halaman 4). Sumber:wordpress.com/2006/10/21/melestarikan-pencak-silat-melalui-kegiatan-ekstrakurikuler/ – 82k -, selasa, 02102007, jam 07.27 wib; hal. 4. Pencak Silat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka berarti, permainan (keahlian) dalam mempertahankan diri dengan kepandaian menangkis, mengelak, dan sebagainya. Silat diartikan sebagai olahraga (permainan) yang didasari ketangkasan menyerang dan membela diri, baik dengan atau tanpa senjata. Bersilat adalah bermain (atau berkelahi) dengan menggunakan ketangkasan menyerang dan mempertahankan diri. Sedangkan Pencak Silat bermakna, kepandaian bertarung dalam pertandingan (atau perkelahian) seni bela diri khas Indonesia. (dikutip oleh: Lelana, Mas Ezra Danu; 16/08/2006, halaman 12). Menurut President IPSI (Ikatan Pencak Silat Indoneisa) mendefinnisikan Pencak Silat sebagai ketrampilan dan ilmu tentang pola gerak bertenaga yang efektif, indah dan menyehatkan tubuh, yang di jiwai budi pekerti luhur berdasar ketaqwaan kepada Tuhan YME, serta berujuan untuk membentuk ketahanan diri dan memupuk rasa tanggung jawab sosial. Dengan demikian pencak silat bukan ilmu atau keterampilan untuk berkelahi, melainkan suatu beladiri “self defence” atau “martial art”, merupakan suatu perpaduan yang luwes antar scien dan skill dalam bahasa Indonesia disebut kan bahwa pencak silat adalah Indonesia self defence art atau Indonesia martial art. Dalam arti sesungguhnya, disepakati ada empat aspek yang terkandung dalam Pencak Silat. Yaitu sarana pembinaan mental spiritual, bela diri, olahraga, dan seni yang tidak dapat di pisahkan. Seperti tercermin dalam lambang trisula, di mana ketiga ujungnya mencerminkan unsur seni, bela diri dan olahraga, sementara gagangnya diyakini melambangkan pembinaan mental spiritual. Sebagai seni, Pencak Silat merupakan wujud perilaku budaya suatu kelompok, yang di dalamnya terkandung unsur adat, tradisi, hingga filsafat. Hal itu menjadi penyebab perbedaan gerakan silat antara suatu daerah dengan daerah lainnya di Tanah Air ini. Demikian pula dengan jenis musik yang mengiringi gerakan-gerakan silat yang seperti tarian lemah gemulai tersebut. Sebagai olahraga, dalam perkembangannya Pencak Silat melangkah menjadi suatu jenis ‘gerak-badan’, senam atau jurus yang dapat dipertandingkan. Perkembangannya kian pesat, setelah disepakatinya suatu aturan pertandingan olahraga pencak silat, seperti kelas peserta, luas arena, dewan pendekar, dewan hakim, ketua pertandingan, dewan wasit dan juri, lamanya pertandingan setiap babaknya, seragam pertandingan dan sebagainya. Sebagai bela diri, pencak silat memang tumbuh berawal dari naluri manusia untuk melakukan pembelaan terhadap serangan fisik yang menghampirinya. Seseorang yang menguasai Pencak Silat (pendekar) diharapkan mampu melindungi diri dari setiap serangan, atau bahkan bisa mendahului menyerang untuk menghindari ‘kerusakan’ yang lebih besar. (dikutip oleh: Lelana, Mas Ezra Danu; 16/08/2006, halaman 13). Seorang pendekar mampu mengembangkan daya tempurnya, sehingga dalam tempo singkat berhasil memenangkan pertarungan. Berarti, dia harus memiliki kemampuan mengatur siasat/strategi bertempur (bahasa Jawa, gelar), baik saat satu lawan satu, atau dikeroyok beberapa orang lawan. Sebagai pembinaan mental spiritual atau olah batin, lebih banyak ditujukan untuk membentuk sikap dan watak kepribadian. Faktor ajaran agama yang menyertai latihan pencak silat, biasanya berperan besar untuk mengembangkan fungsi ini. Sulit ditunjukkan secara eksplisit produk dari pembinaan mental spiritual tersebut, namun banyak aktivitas lain yang dihasilkan seperti, penyembuhan spiritual, serta demonstrasi tenaga dalam, yang merupakan wujud dari keberhasilan latihan olah batin. Disamping itu Sebagai seni budaya Bangsa yang berlandaskan Pancasila, Pencak Silat harus berlandaskan kepercayaan terhadap “ke-Esaan Sang Pencipta. Secara kasat mata memang masih ada perbedaan, yakni di pencak silat didominasi gerakan mirip tarian, sementara pada bela diri yang lain dominan dengan gerakan keras sejak awal hingga selesai. Hal itu masih ditambah teriakan keras (di karate disebut kiai), yang di pencak silat tak begitu akrab dilakukan. Secara ringkas ada tiga prinsip teknis olahraga Pencak Silat, yakni teknik sambut serangan, penerapan teknik tinggi untuk meraih nilai penuh, serta selalu menggunakan kaidah-kaidah silat. Teknik dan taktik sambut serangan, yakni tindakan saat menerima serangan lawan, dengan menangkis, menghindar, mengelak dan kemudian membalas menyerang. Dalam setiap gerakan Pencak Silat (sebagai olahraga), unsur-unsur seni dan bela diri tentu harus tercermin. Sedangkan aspek pembinaan mental spiritual sudah terimplementasi di dalamnya. Misalnya, walau tak ada peraturan tertulis, namun seorang pesilat dilarang menyerang lawan yang sedang mengembangkan kaidah-kaidah perguruannya. (Lelana, Mas Ezra Danu; 16/08/2006, halaman 14). Lelana, Mas Ezra Danu; (16/08/2006); Melestarikan Pencak-Silat Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler; Anggota Milist Silat Bogor Dan Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia, http://lembahlawe.blogspot.com (www.silatindonesia.com), Akses terakhir, Selasa, 02102007, jam 07.27 wib; hal. 14. Sumber: wordpress.com/2006/10/21/melestarikan-pencak-silat-melalui-kegiatan extra-kurikuler/ – 82k -, Di dalam Pencak Silat, aspek kekuatan tidak hanya ditimbulkan dari kekuatan …. Disamping itu Sebagai seni budaya Bangsa yang berlandaskan Pancasila, pencaksilat; download selasa, 02102007, jam 07.27 wib; hal. 14). Ilmu Kolahragaan

Daftar Pustaka.

  1. Ateng, Abdulkadir, Prof. Dr. M.Pd. H; 2007, Filsafat olahraga dan tantangan pembangunan olahraga Indonesia, Makalah disampaikan dalam seminar nasional keolahragaan Indonesia, Sabtu, 26 Mei 2007 di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja Bali, Penerbit: Unit Penerbitan Undiksha, ISBN: 978-979-16317-0-9, Halaman 15 – 24.
  2. Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia; 1999; Hasil Sidang Umum MPR RI Tahun 1999 Beserta Perubahan Pertama Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Penerbit: Arkola Surabaya.
  3. Bompa, Tudor O; 1986, Theory and Methodology of Training: The Key of Atletic Performance. Kendall/ Hunt Publishing Company, Printed in The United States of American, hal. 213- 247.
  4. Capen, E.K., 1949, The Effect of Systematic Weight Training on Power, Strength, and Endurance. The Research Quarterley, August, hal. 83-93.
  5. Lembaga Ketahanan Nasional; 1997; Wawasan Nusantara; Cetakan kedua, Penerbit PT Balai Pustaka, BP No. 4836, ISBN 979-407-894-8, Jakarta, hal.: 33.
  6. Jawa Pos, Edisi 17 Maret 2003.
  7. Jawa Pos, Edisi 7 November 2002.
  8. Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia; 1999; Hasil Sidang Umum MPR RI Tahun 1999 Beserta Perubahan Pertama Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Penerbit: Arkola Surabaya.
  9. Mangi, M.D., Jokl, M.D., A.T.C. Dayton, 1987, Sport Fitness and Training. Phantheon Books, New York, hal. 30.
  10. Muhadjir, Noeng; 1996; Mertode Penelitian Kualitatip; Edisi 2, Penerbit Andi Ofset Yogyakarta.
  11. Nasution, Yuanita, S.Psi, M.App.Sc; 2001; Sumber Stres Bagi Atlit Pelajar ; Balitbang Dikdasmen Dikti PLSP Kebudayaan Setjen Itjen Portal Pendidikan di Indonesia Dibuat dan dikelola oleh Pusat Statistik Pendidikan, Balitbang – Depdiknas 2001 Hak Cipta oleh Departemen Pendidikan Nasional.
  12. Noegroho, Setyo; 2004; Metode Penelitian Dalam Ilmu Keolahragaan; Makalah disampaikan dalam Pelatihan Pengembangan Penelitian Ilmu Keolahragaan, tanggal 15 – 16 Desember 2004 di Universitas Negeri Jakarta,
  13. Pate, R.R., B. McClenghan, R. Rotelle, 1984, Scientific Foundation of Coaching. Sounders Collage Publishing, Philadelphia, hal. 179-180, 217.
  14. Purbodjati; 2004; Peranan Pencaksilat dalam pembinaan generasi muda, Media Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, IKIP Surabaya, No. 79/Th. XVII/7/1995, Juli 1995, ISSN: 0216 – 9975.
  15. Purbodjati; 2004; Aspek-aspek psikologis dalam pembinaan olahraga, Jurnal IKOR Pend. Kes. Rek. FIK-Unesa. Vol 1 No. 1 hlm.: 1-45, Mei 2004, TSSN: 1693-9921.
  16. Puri, Pakne; 2007; Wewarah Karaton lan Lingkungan Hidup (Mahargya Dino Lingkungan Hidup 5 Juni); Kalawarti Minggon Basa Jawa Panyebar Semangat No. 23, Setu Paing, 9 Juni 2007 – 23 J Awal Ehe 1940 Windu Kunthara, ISSN 0215-2924, Jl. GNI no. 2 Surabaya 60174, e-mail: panyebarsemangat @ journalist.comf
  17. Persaudaraan Setia-Hati Terate; 2000; Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga; Hasil keputusan Musyawarah Besar VI, Tanggal 1 – 3 September 2000.
  18. Sjamsuddin, Nazaruddin, 1994; Integrasi Nasional Dan Ketahanan Nasional; Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Sumbangan Ilmu-Ilmu Sosial Terhadap Konsepsi Ketahanan Nasional, oleh Program Studi Ketahanan Nasional Universitas Gajah Mada, tanggal 30 Nopember – 1 Desember 1994.
  19. Soedarsono, Soemarno; 1999; Penyemaian Jati Diri Strategi Membentuk Pribadi, Keluarga, dan Lingkungan menjadi Bangsa yang Profesional, Bermoral, dan Berkarakter; Penerbit: PT. Elex Media Komputindo, Anggota IKAPI, 23499177, ISBN: 979-20-1235-4, Jakarta.
  20. Soekarman, 1987, Dasar Olahraga Untuk Pembina, Pelatih, dan Atlit. Inti Idayu Press, MCML XXXVLL, Jakarta, hal. 11-26, 30-34.
  21. Strauss, R.M., 1979, Sport Medicine and Physiology. WB. Sounders Company, Philadelphia-London-Toronto, hal. 29- 46.
  22. Suara Karya online, Edisi 3 Maret 2006.
  23. Usman, Sunyoto, 1994, Integrasi Nasional Dan Ketahanan Nasional; Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Sumbangan Ilmu-Ilmu Sosial Terhadap Konsepsi Ketahanan Nasional, oleh Program Studi Ketahanan Nasional Universitas Gajah Mada, tanggal 30 Nopember – 1 Desember 1994.
  24. Sumber: wordpress.com/2006/10/21/melestarikan-pencak-silat-melalui-kegia-tan-ekstrakurikuler/ – 82k -, Di dalam Pencak Silat, aspek kekuatan tidak hanya ditimbulkan dari kekuatan …. Disamping itu Sebagai seni budaya Bangsa yang berlandaskan Pancasila, pencaksilat; download selasa, 02102007, jam 07.27 wib;
  25. Sumber: http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Nomor_3_Tahun_2005; Akses terakhir Rabu, 071107, jam 14.03 wib.
  26. Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia, 2006, INDONESIA 2005-2025 (BUKU PUTIH Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, Tahun 2005-2025), Penerbit: Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Jakarta, 2006.

MENDIDIK DENGAN LANGKAH MENGIKUTI HATI NURANI.

Menghadapi segala permasalahan dalam kehidupan masyarakat saat ini, yang timbul akibat konvergensi berbagai dampak globalisasi, membutuhkan solusi pengetahuan yang diharapkan rencana pengembangan yang mengacu pada evaluasi diri untuk melihat arah pengembangan yang potensial dan penataan manajemen internal sebagai upaya membangun kapasitas lembaga pendidikan tinggi. Kedua hal tersebut sangat dibutuhkan dalam upaya meningkatkan efisiensi dan relevansi pendidikan yang diselenggarakan. Semua upaya tersebut akan bermuara pada satu tujuan, yakni peningkatan kualitas lulusan yang berkelanjutan agar mampu bersaing dalam kompetisi dan kinerja pasar kerja. Penjaminan kualitas baik kualitas proses maupun kualitas produk membutuhkan suatu mekanisme quality control dan quality assurance yang terstandar dan berkelanjutan. Pada akhirnya pembaharuan sistem manajemen pendidikan tinggi di atas akan bermuara pada suatu rancangan sistem manajemen mutu terpadu (TQM) yang bersifat aplicable dan terukur. Makalah ini akan mengulas tentang pembaharuan sistem implementasikan pendidikan tinggi berdasarkan pengalaman penulis dalam mengimplementasikan sistem perencanaan dan evaluasi berbagai program pengembangan di Universitas Negeri Medan. DRAFT: POSTER MASALAH PSIKHOLOGI PENDIDIKAN DENGAN KONSENTRASI KAJIAN MASALAH PARADIGMA PENDEKATAN IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI PENJASKESREK DALAM ILMU KEOLAHRAGAAN DI INDONESIA. Tema:KEMANAKAH ARAH PENDIDIKAN KITA ? ( MENDIDIK DENGAN LANGKAH MENGIKUTI HATI NURANI. SUARA REFORMASI: “ KEHIDUPAN ! PROFESI ! ….. MELUPAKAN TATANAN PAYUNG KEILMUAN, ETIKA MORAL BUDAYA DAN AGAMA ! BERAKIBAT FATAL DAN TRAGIS, KINI, BARU SAJA DAN SELALU TERBUKTI DALAM SEJARAH KEHIDUPAN. (Purbodjati, 1997:renungan jelang reformasi). Menghadapi segala permasalahan dalam kehidupan masyarakat saat ini, yang timbul akibat konvergensi berbagai dampak globalisasi, membutuhkan solusi pengetahuan yang diharapkan rencana pengembangan yang mengacu pada evaluasi diri untuk melihat arah pengembangan yang potensial dan penataan manajemen internal sebagai upaya membangun kapasitas lembaga pendidikan tinggi. Kedua hal tersebut sangat dibutuhkan dalam upaya meningkatkan efisiensi dan relevansi pendidikan yang diselenggarakan.Semua upaya tersebut akan bermuara pada satu tujuan, yakni peningkatan kualitas lulusan yang berkelanjutan agar mampu bersaing dalam kompetisi dan kinerja pasar kerja. Penjaminan kualitas baik kualitas proses maupun kualitas produk membutuhkan suatu mekanisme quality control dan quality assurance yang terstandar dan berkelanjutan. Pada akhirnya pembaharuan sistem manajemen pendidikan tinggi di atas akan bermuara pada suatu rancangan sistem manajemen mutu terpadu (TQM) yang bersifat aplicable dan terukur. Makalah ini akan mengulas tentang pembaharuan sistem implementasikan pendidikan tinggi berdasarkan pengalaman penulis dalam mengimplementasikan sistem perencanaan dan evaluasi berbagai program pengembangan di Universitas Negeri Medan. Bab I: Pendahuluan. 1. Era baru kemajuan perjuangan kita dalam membangun pendidikan telah terwujud dan berproses sesuai harapan cita-cita luhur perjuangan bangsa Indonesia. 2. Antara harapan dan kenyataan adalah fenomena yang menarik bagi para pendekar pejuang pendidikan untuk bermotivasi maju terus pantang mundur dibawah payung PANCASILA DAN U.U.D. 1945. 3. Dialektika ini diantaranya terbukti dalam KONGGRES NASIONAL PENDIDIKAN INDONESIA, Tanggal 4 – 5 Oktober 2004 yang diselenggaran oleh UNESA di Surabaya. 4. Masalah desentralisasi dan demokratisasi merupakan salah satu variabel yang vital dalam perkembangan membangun prospek pendidikan kita. 5. Posisi kualitas pendidikan Indonesia dirangking ke 12 (terbawah) di wilayah negara Asia Tenggara; Diantara penyebabnya adalah tidak nyatanya prioritas kebijakan (political will) pemerintah bidang pendidikan. (Suyanto, 2004: hal. 2-3). Bab II: Permasalahan. Merespon tema umum permasalahan panitia seminar, maka konsentrasi permasalahan tulisan ini adalah Bagaimana paradigma teoritik dan empirik masalah desentralisasi dan demokrasi pendidikan dalam KONASPI V di Surabaya tahun 2004. Bab III: Tujuan Dan Manfaat. 1. Tujuan: 1) Menginformasikan bahasan pokok masalah dalam bentuk abstrak peserta KONASPI. 2) Merangsang peserta untuk menganalisa berdasarkan pengalaman teoritik dan empiriknya. 3) Menambah modalitas profesi khususnya dalam membangun pendidikan kita. 2. Manfaat: 1) Mendapatkan bukti secara teoritik dan empirik tentang variasi dinamika implementasi masalah desentralisasi dan demokratisasi pembangunan pendidikan di era otoda. 2) Mengetahui kekuatan dan kelemahan gerak profesi pendidikan kita. Memperkokoh profil kebangsaan, kerakyatan dan jatidiri berbangsa bidang pendidikan kita. Bab IV: Konsep Dan Strategi Penyajian. 1. Konsep Penyajian: 1) Bahwa dengan memperoleh informasi abstraksi karya ilmiah, peserta memperoleh informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bidang pendidikan secara efektif dan efisien, sesuai prinsip kerja ilmiah. 2) Sistimatika Penyajian didesain agar produktifitasnya optimal dalam bentuk sebagai berikut: a. Halaman judul. b. Halaman pengesahan. c. Kata Pengantar. d. Daftar Isi. e. Bab I : Pendahuluan. f. Bab II : Permasalahan. g. Bab III: Tujuan dan Manfaat penulisan. h. Bab IV: Konsep dan Strategi penulisan. i. Bab V : Abstak Masalah Desentralisasi Dan Demokratisasi Pendidikan Dalam KONASPI V DI SURABAYA TAHUN 2004. j. Penutup. k. Daftar Pustaka. 2. Strategi Penyajian: 1) Penyaji menginformasikan dalam bentuk SISTIM POSTER ABSTRAK KARYA ILMIAH yang diambil dari sumber aslinya. Peserta dan pemerhati merespon sesuai daya mampu teoritik-empiriknya. Improvisasi ilustrasi: 1. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. 2. K 3. 4. d


Responses

  1. Cara boleh berbeda, namun tujuan hrs tetap sama.

    Apakah tujuan berbangsa dan bernegara kita?

    Indonesia pasti sejahtera!!

  2. oke banget akang sedulurku, akupun juga respon sekali untuk belajar ke kota kembang Bandung Lautan api.
    Wassalammualaikum ww.
    Purbodjati.
    Hp. 081330770418


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: